Unsur-Unsur Intrinsik Novel: Sudut Pandang (Point of View)

Sumber gbr: www.flickriver.com
Sebagai sebuah karya, novel terbangun atas dua unsur, yaitu unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Unsur intrinsik adalah unsur yang membangun karya sastra dari dalam sedangkan unsur ekstrinsik adalah unsur yang membangun karya sastra dari luar. Unsur intrinsik dikatakan membangun karya sastra dari dalam karena unsur-unsur tersebut akan dengan mudah ditemukan oleh pembaca saat ia membaca karya sastra, atau dikatakan pula unsur-unsur tersebut akan ditemukan secara langsung saat pembaca membaca sebuah karya sastra.

Yang termasuk unsur intrinsik antara lain tema, plot, tokoh, setting, sudut pandang (point of view), gaya bahasa dan amanah. Tulisan berikut akan secara berkala membahas unsur-unsur prosa. Yang pertama akan dibicarakan di sini adalah sudut pandang (point of view).

Sudut pandang (point of view) diartikan oleh Stanton sebagai posisi pengarang terhadap peristiwa-peristiwa di dalam cerita (Stanton, 1975: 71). Dalam menulis cerita, pengarang bisa mengambil posisi sebagai pencerita saja atau dia masuk menjadi tokoh dalam cerita. Sehingga secara garis besar posisi pengarang terhadap cerita juga ada dua, yaitu insider artinya pengarang mengambil peran dalam cerita atau outsider, pengarang berada di luar cerita). Sebelum menulis cerita, penulis harus menentukan siapa yang menjadi subjeknya, menentukan pusat cerita atau pusat pengisahan berarti menentukan pertalian antara pengarang dengan ceritanya.

Sementara itu, Suminto A. Sayuti (1988: 87) mengatakan bahwa sudut pandang adalah visi pengarang dalam arti bahwa ia yang merupakan sudut pandang yang diambil pengarang untuk melihat peristiwa atau kejadian dalam cerita.


Stanton (1979: 71) membagi sudut pandang menjadi empat tipe, yakni;
  1. First PErson Central atau sudut pandang  orang pertama sentral atau dikenal juga sebagai akuan sertaan. Dalam cerita, pengarang menjadi tokoh  sentral yang secara langsung terlibat dalam cerita. Ada dua kemungkinan mengenai si aku dalam cerita yang mengggunakan sudut pandang ini, bisa jadi si aku dalam cerita adalah pengarang itu sendiri (pengarang seperti menulis biografinya sendiri) atau si aku sebenarnya bukan pengarang, pembaca seolah-olah mendengar cerita dari pelakunya sendiri.
  2. First Person Periplural atau sudut pandang orang pertama sebagai pembantu atau disebut akuan tak sertaan, yakni sudut pandang ketika tokoh aku hanya menjadi pembantu yang mengantarkan tokoh lain yang lebih penting. 
  3. Third Person Omniscient, sudut pandang orang ketiga mahatahu atau diaan mahatahu, yakni pengarang berada di luar cerita, menjadi pengamat yang mahatahu. Pada sudut pandang ini pengarang memposisikan dirinya layaknya dalang dalam pertunjukkan wayang kulit. Dia tahu semua peristiwa yang terjadi. Bahkan dia juga tahu watak dari setiap tokoh-tokohnya. Ya, dialah yang menggerakkan cerita.
  4. Third Person Himted atau sudut pandang orang yang bekerja terbatas atau disebut juga diaan terbatas, yakni pengarang mempergunakan orang ketiga sebagai pencerita yang terbatas hak ceritanya. Pengarang hanya menceritakan apa yang dialami oleh tokoh yang dijadikan tumpuan ceritanya.
Meski sudut pandang terbagi menjadi empat seperti tersebut di atas, namun dalam penceritaanya pengarang sering mempergunakan lebih dari satu sudut pandang.

0 Response to "Unsur-Unsur Intrinsik Novel: Sudut Pandang (Point of View)"

Poskan Komentar