Diksi dalam Puisi

Puisi merupakan salah satu karya sastra yang terkadang sulit dipahami. Keindahan puisi akan sangat terasa jika dibacakan. Tetapi untuk membaca puisi dengan baik, seorang pembaca dituntut memahami hal-hal yang terkait dengan puisi. Setiap kata yang ada dalam puisi harus diketahui benar maksudnya sehingga tidak salah tafsir sehingga salah juga mengucapkan dan mengekspresikan. Hendaknya setiap pembaca memahami bahwa puisi adalah karya sastra yang menggunakan bahasa yang singkat padat dan penuh makna. Padat maksudnya kata-kata dalam puisi bisa diurai menjadi beberapa kata. Banyak makna konotasi (makna yang sudah dipengaruhi oleh nilai rasa) yang digunakan dalam setiap kata. 

Salah satu hal yang harus diperhatiakan dalam membuat puisi adalah diksi.
Diksi ataupun pilihan kata merupakan kekhususan dari puisi. Pilihan kata ini akan menciptakan nada dan suasana. Pilihan kata ini benar-benar diperhatikan penulis puisi karena dia akan memperindah puisi.

Perhatikan penggalan bait puisi berikut:

Ujung mimpiku menyambar kepala halilintar
Jasad-jasad tidur terkapar

Kata halilintar semakna dengan kata petir ataupun guntur. Tetapi tentu bukan suatu alasan penyair lebih memilih kata halilintar dari pada petir ataupun guntur. Salah satu pertimbangannya, menurut kami adalah bahwa kata halilintar lebih sesuai bunyinya dengan kata menyambar dan terkapar. Sehingga pemilihan itu lebih bersifat untuk menciptakan irama.

Kemudian kenapa, penyair lebih memillih kata kepala pada baris # menyambar kepala halilintar# 
Ya, tentu untuk menegaskan betapa tingginya mimpi sang penyair hingga mampu menyambar bagian teratas (kepala) dari sesuatu yang tinggi juga (halilintar).


0 Response to "Diksi dalam Puisi"

Poskan Komentar