Kesalahan Fatal dalam Mendidik

Mendidik tidak sama dengan mengajar. Ada nilai lebih dalam kata mendidik dibandingkan mengajar. Tidak hanya sekedar transfer ilmu tetapi juga harus memperhatikan karakter orang yang dididik dan juga menjiwai sisi psikologi mereka. Kesalahan dalam mendidik akan berakibat fatal bagi anak-anak.

Berikut adalah beberapa cara mendidik (yang keliru) yang sering digunakan jika memang ada orangtua yang benar-benar ber-‘azzam untuk menghancurkan masa depan keturunannya. Barangkali Anda memang tipe orang yang gemar mencoba-coba atau melakukan suatu hal tanpa alasan sama sekali. Ikutilah langkah-langkah dalam artikel ini dan saksikan sendiri bagaimana dunia anak-anak runtuh dengan mudahnya akibat perbuatan kita.

  • Jika kita menghendaki anak yang penurut tapi... tidak punya inisiatif dan tidak punya keberanian, suruh dia duduk diam, ikat tangannya, lem mulutnya dengan lem besi, lalu makilah ia jika masih saja berontak. Kalau perlu (atau kalau mau) bisa menampar wajahnya keras-keras. 
  • Sebagai tambahan dari poin pertama, kita juga bisa membentak dan memukulnya di depan orang banyak(biar kapok maksudnya). Hal ini terbukti bisa memberi efek lebih pada setiap aksi yang diharapkan dapat menciptakan rasa malu dan keterhinaan, sebuah kombinasi terbaik untuk menciptakan generasi penurut sekali agar anak kita benar-benar yakin bahwa dirinya adalah makhluk paling hina sedunia, banding-bandingkanlah ia dengan si juara kelas, puja-pujilah temannya itu di hadapan orang lain seraya menjelek-jelekkan dirinya. Insya Allah, anak kita akan tumbuh menjadi manusia yang paling yakin bahwa dirinya memang hina, dan dengan sendirinya ia akan benar-benar menjadi manusia paling hina sejagat.
  • Jika ia menangis, maka cubitlah lengannya dengan keras. Jangan lupa lengkapi pula penderitaannya dengan tatapan mata yang kasar seperti hendak membunuh. Biasanya, manusia akan melupakan rasa sakit yang kecil ketika sedang merasakan sakit yang lebih besar. Cubitan tadi (yang kemungkinan akan berbekas itu) diharapkan bisa mengalihkan perhatiannya dari apa pun yang membuatnya menangis. Dengan cara ini, kita mendorong anak agar merasa takut bahkan untuk menangis sekalipun.
  • Cara terbaik untuk mengajari anak-anak untuk menghargai orang tuanya adalah dengan menunjukkan bahwa anak dan orang tua berasal dari ‘kasta’ yang berbeda. Jelaskan pada mereka bahwa mereka tidak memiliki hak secuil pun untuk membantah, karena anak-anak semacam mereka memang tidak tahu apa-apa. Kalau kunyuk-kunyuk kecil itu masih melawan, kita selalu bisa menggunakan tangan untuk menunjukkan siapa sebenarnya yang memiliki otoritas di rumah (mosok anak anak tidak mau menghormati orang tua?). 
  • Jika kita menghendaki anak-anak tumbuh menjadi orang-orang bertubuh lemah, maka jangan biarkan mereka berlari-lari atau main di luar rumah, apalagi di tempat-tempat yang kotor. Fakta membuktikan bahwa berlari-lari bisa membuat tubuh menjadi sehat dan sesekali berkotor-kotor ria di luar rumah bisa meningkatkan antibodi anak. Tidakkah kita menginginkan hal itu?
  • Kalau anak sudah mulai cerewet dan bertanya-tanya, temukanlah suatu cara – cara apa pun – untuk membungkam mereka. Tentu saja pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan terlalu konyol untuk dijawab. Karena itu, jangan buang waktu untuk menjawab, bahkan kita tidak perlu memikirkan jawabannya. Tapi kita perlu ingat bahwa kebanyakan anak akan segera diam jika dibentak kalau perlu dicubit. 
  • Karena menjadi pintar itu adalah sebuah keharusan, maka berlakukanlah disiplin ala peserta olimpiade atau militer di rumah. Sepulang sekolah, sehabis istirahat sejenak, segera suruh mereka belajar lagi hingga sore hari. Setelah makan malam, jangan biarkan mereka bebas. Suruhlah mereka belajar dan belajar lagi. Buatlah mereka sedemikian sibuknya sampai mereka tertidur di meja belajar. Jangan biarkan mereka bermain, karena hal semacam itu hanya buang-buang waktu saja. Jangan pula biarkan mereka bergaul dengan anak-anak lain, karena antisosial adalah sikap terbaik yang bisa membuat mereka diam di rumah dan belajar terus sampai habis tenaganya(Puas dengan seperti itu?)mungkin ya....wah anakku luar biasa kerjanya belajar,belajar,belajar,belajaar......!!!
  • Jika kita sedang mengalami sebuah hari yang amat berat, misalnya karena kesalahan teknis di kantor, banyak hutang, bertengkar dengan istri, atau dijepit oleh berbagai macam kebutuhan, maka ketahuilah bahwa Tuhan memberi kita anak tidak untuk dijadikan sasaran pelampiasan. Puaskah nafsu kita dengan menyakiti mereka, karena toh mereka tidak akan mampu membalas dengan kekuatan yang setimpal. Bila puas dengan itu maka lampiaskanlah, mumpung mereka masih belum cukup besar untuk membalas perlakuan orangtuanya yang wajiib dituruti semua kehendaknya.
  • Cara terbaik untuk menyampaikan pesan kejengkelan pada anak adalah dengan tidak mempedulikannya, acuhkan saja beberapa hari kalau belum mau nyembah-nyembah diamkan saja beberapa minggu/bulan ,lebih kuat siapa??. Jika ia datang untuk menunjukkan gambar yang baru saja dibuatnya tadi siang di sekolah, maka acuhkanlah,..ganggu saja.... Televisi dapat menyediakan hiburan yang lebih baik buat mereka. Demikian pula jika ia hendak mengoceh panjang lebar tentang hari yang dihabiskannya di sekolah, maka Anda tidak perlu menatap wajahnya sama sekali kan bukan hal yang penting bagi kita...iya kan? kemudian bersikap saja seolah-olah baru sibuk banget..biar dia tidak lagi ganggu kita.. Tunjukkanlah bahwa kita tidak punya waktu dan tidak perlu untuk mendengarkan kalimat-kalimatnya yang diujung lidahnya masih belum terlontar keluarbiar dia putus asa krn setiap dia mau bicara selalu saja tidak dipercaya bahkan dianggap bohong... !
Memang kita orang yang (mungkin) sangat keterlaluan !!!
Ya Allah ampuni kami orangtua,saudara-saudara kami,anak-anak kami,selamatkan mereka
Ya Allah.. kenapa banyak korban ketidaktahuan cara mendidik dari orangtua walau sudah sarjana...Ya Allah ampuni kami..dari segala khilaf kami...aaamiin

0 Response to "Kesalahan Fatal dalam Mendidik"

Posting Komentar