Efektivitas Marah

"Diam..", teriak seorang guru wanita dari dalam kelas. Tetapi nampaknya para siswa sudah terbiasa dengan teriakan itu, hingga dianggap angin lalu. Ribut pun masih berlanjut.

"Astaghfirullah...", lanjut sang guru dengan disertai memukul-mukul meja dengan penggaris. Tapi, ya Allah, sungguh mereka tidak mendengar itu kelihatnnya. Ramai antarteman pun terus mereka lakukan. Sang guru memukul meja dengan penggaris lagi, kali ini dengan suara yang luar biasa kerasnya, hingga semua siswa akhirnya diam. Tertunduk. "Kalian maunya apa? Diajar tidak memperhatikan... kalau suruh njawab pertanyaan malah dlongop kayak kambing dungu..... Masih mau diajar ndak? Kalau tidak... mendingan saya keluar dari kelas ini...dah ndak usah ngajar kalian saja. Masih banyak siswa yang mau mendengarkan pelajaran. Tidak seperti kalian. Gimana masih mau belajar ndak?!" Bentaknya dengan suara yang mulai menurun.

Itu hanya ilustrasi. Ups Anda malah pernah mendengarnya sendiri? Yah, masih banyak guru yang menggunakan cara mendiamkan peserta didik dengan marah-marah. Barangkali benar, setelah kemarahan puncak dimuntahkan, sang anak didik langsung diam. Tetapi benarkan situasi dan kondisi semakin kondusif untuk KBM.

Coba Anda renungkan ulang, pikirkan dan instrupeksi. Anda pernah dimarahi tentunya. Mungkin oleh orang tua atau siapa saja. Kalau belum, syukurlah. Tapi kalau saya sendiri sudah pernah. Ada rasa jengkel ketika kena marah, apalagi kalau memang seharusnya sang pemarah sendiri yang harus memperbaiki diri, tentu akan semakin jengkel.

Demikian pula anak didik. Setelah kemarahan pasti ada jarak yang sukar dilampaui. Anak jadi tambah males. Atau kalau mereka berubah diam dan patuh... pasti ada rasa terpaksa dalam dirinya. Bagaimana menurut Anda jika seseorang melakukan sesuatu dengan terpaksa. Tentu hasilnya tidak maksimal. Nah demikian juga ketika kemarahan itu ditimpakan kepada anak didik kita. Bisa jadi bukan semakin bertambah hormat tetapi benih kebencian yang mulai tertanam.

Nah, jika memang Anda harus marah, marahlah. Tetapi ingat kemarahan yang Anda tumpahkan harus Anda tanyakan pada hati Anda yang paling dalam, apakah Anda memang harus marah atau Anda yang harus melihat diri, sudah pas kah Anda membangkitkan anak didik Anda sehingga mereka bisa semangat mengikuti pelajaran. Atau justru apa yang akan Anda sampaikan sudah membuat mereka menjadi jenuh. Jenuh sebelum materi itu Anda ajarkan.

Bagaimana menurut sampeyan?

0 Response to "Efektivitas Marah"

Posting Komentar