Dongeng, Sarana Mengajar Bernuans Karakter Bangsa: Bagaimana Melakukannya

Dongeng. Siapa yang belum pernah mengenalnya dan mendengarnya? Yups, saya yakin semua telah mendengar bahkan melakukannya. Dongeng sangat efektif untuk mengajarkan nilai-nilai kepribadian pada siapa pun, tidak hanya anak kecil yang menyukai dongeng. Hal ini tentu terkait dengan dongeng yang merupakan salah satu jenis karya sastra. Sebagaimana telah di maklumi bahwa sebagai sebuah karya sastra ia mempunyai fungsi dulce et utile. Menyenangkan dan bermanfaat. Remaja, kaum muda bahkan orang tua pun sangat menyukai dongeng. Tentu saja dongeng yang diminati adalah dongeng yang sesuai dengan usia mereka.
Sebagai guru, dongeng sangat bagus di masukkan dan disisipkan dalam pelajaran, apalagi sebagai guru Bahasa Indonesia. Dongeng merupakan salah satu kompetensi dasar yang harus diajarkan dan dimiliki oleh peserta didik. Lalu bagaimana cara mendongeng dan apa syarat-syaratnya?
Inilah beberapa syarat pendongeng yang harus dimiliki:

  • Syarat Fisik
    • Pendongeng harus mampu menggunakan penghasil suara secara lentur sehingga dapat menghasilkan suara yang bervariasi. Ia sama halnya dengan dalang. Ia harus mampu menyuarakan peran apapun dan adegan apapun. Suatu ketika ia dapat berperan, misalnya, sebagai pejabat. Berkenaan dengan perannya itu, ia harus mampu menghasilkan suara yang mantap dan bulat sehingga terdengar berwibawa. Namun, dalam suatu adegan mungkin sang pejabat itu harus bersuara dengan geram karena sangat marah dan kecewa. Nah, untuk menampilkan adegan tersebut ia harus mampu menghasilkan suara yang sesuai dengan tuntutan peran itu. Pada kesempatan lain mungkin ia harus memerankan nenek atau kakek yang kondisi fisiknya sangat susah. Ia pun harus mampu menghasilkan suara yang sesuai dengan peran itu pula. Jadi, jelas bahwa ia harus mempunyai kelenturan suara. Suara itulah yang menentukan keberhasilan pendongeng lebih-lebih lagi pendongeng di radio dan kaset.
    • Pendongeng harus mampu menggunakan penglihatan secara lincah dan lentur sesuai dengan keperluan. Jika mendongeng di hadapan pendengar, ia harus menggunakan mata untuk kepentingan ganda. Pertama, mata digunakan untuk memperkuat mimik. Kedua, sarana itu digunakan pula untuk berkomunikasi dengan pendengar. Jika akan mendongeng dengan membacakan naskah, ia harus mempelajari naskah dongeng. Untuk keperluan itu, pemanfaatan mata secara lincah berarti penggunaan mata dengan gerak yang cepat untuk menangkap maksud naskah secara utuh. Dalam hal ini mata harus dapat dengan sempurna melihat semua huruf dan tanda baca yang ada sehingga tidak salah baca. Mata (di samping pendengaran) juga merupakan sarana fisik yang digunakan untuk berkomunikasi dengan produser, dan petugas yang lain jika mendongeng melalui radio. Dengan matanya ia dapat menangkap aba-aba sang produser kapan harus mulai, berhenti, mengakhiri kegiatan mendongeng (pembacaan naskah dongeng) atau instruksi-instruksi lainnya.
  • B. Syarat Mental/Rohani dan Daya Pikir
    • Pendongeng harus bersikap mental serius, sabar, lapang dada, disiplin, taat beribadah, berakhlakul karimah, dan senang berkesenian. Semua sikap mental tersebut sangat diperlukan oleh pendongeng karena mendongeng (pembacaan naskah dongeng) memerlukan pemahaman yang sangat mendalam. Pemahaman dan penghayatan dilakukan dengan penuh keseriusan, kesabaran, dan kedisiplinan. Pendongeng harus berlapang dada karena mungkin menerima kritik dari pendengar atau dari pihak lain. Tanpa sikap mental berlapang dada, ia tidak akan menjadi pendongeng yang dari waktu ke waktu meningkat kemampuannya. Pendongeng harus berakhlakul karimah karena ia hidup sebagaimana manusia umumnya, yakni bergaul. Pendongeng yang berakhlakul karimah pasti disenangi dan menyenangkan.  Ia akrab dengan siapapun. Pergaulannya bersifat lintas etnik, lintas agama, dan lintas golongan. Tanpa sungkan-sungkan ia akan minta maaf jika melakukan kesalahan betapapun kesalahannya tidak disadari. Suasana pergaulan yang demikian dapat mengurangi atau malahan menghilangkan ketegangan dan ini jelas mengondisikan konsentrasi prima. Kondisi konsentrasi prima inilah yang sangat diperlukan dalam mendongeng. Sementara itu, ketaatan beribadah diperlukan karena menjadi pengontrol yang jitu dalam segala hal. Kekecewaan atau kekesalan yang dirasakannya dinetralkan melalui ketaatannya beribadah sebab pada saat beribadah ia pasrah kepada Sang Khalik. Ia kembali optimistis karena meyakini bahwa Sang Khalik merupakan sumber dari segala sumber kebajikan; kemampuan, kecerdasan, ketenangan, inspirasi, dsb. Kegemaran berkesenian menjadi modal yang sangat penting bagi pendongeng karena mendongeng berkaitan erat dengan seni. Mendongeng berkaitan dengan seni mengolah suara untuk menghasilkan suara yang indah didengar.
    • Pendongeng harus berpikiran cerdas dan kreatif. Kecerdasan diperlukan karena pendongeng harus dapat menafsirkan isi (naskah) dongeng secara tepat. Ia tidak boleh menafsirkan isi (naskah) dongeng sesuai dengan kehendaknya tanpa memperhatikan ide dasar (naskah) dongeng. Ide dasar (naskah) dongeng itu tidak selalu disampaikan secara eksplisit. Di sinilah ia dituntut secara cerdas mampu menangkapnya. Dengan kecerdasannya juru wicara dapat mengelompok-ngelompokkan kata, frasa dan kalimat sehingga ide (naskah) dongeng secara utuh benar-benar dikuasainya dengan baik. Kreativitas diperlukan ketika mendongeng. Ia harus mampu secara kreatif mendongeng sehingga menarik. Jika membacakan naskah dongeng, kadang-kadang ia harus menambah kata-kata tertentu, tetapi kadang-kadang sebaliknya atau mungkin menggantinya yang lebih tepat. Malahan, pada saat berlangsungnya pembacaan naskah ia kadang-kadang perlu melakukan improvivasi yang menambah lebih tepat dan indahnya naskah yang dibacakannya.
    • Pendongeng harus berpengetahuan umum luas dan berketerampilan bahasa (Indonesia). Pengetahuan umum sangat bermanfaat bagi pendongeng. Dengan memiliki pengetahuan umum yang luas, ia memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Ini sangat diperlukan oleh pendongeng. Rasa percaya diri dapat memantapkan mental pendongeng. Tambahan lagi, dengan pengetahuan umum yang luas itu pula ia dapat memberikan kritik terhadap kekurangan atau kesalahan yang mungkin terdapat di dalam naskah. Jika sempit pengetahuan umumnya, ia kurang percaya diri. Ini kurang menguntungkan. Penampilannya canggung. Sementara itu, keterampilan berbahasa sangat diperlukan karena dalam pelaksanaan tugasnya pendongeng berurusan dengan keterampil berbahasa, sekurang-kurangnya tiga keterampilan berbahasa, yakni menyimak, membaca, dan berbicara. Dua keterampilan yang sangat dominan ialah membaca dan berbicara. Keterampilan membaca diperlukannya ketika ia harus membacakan naskah dongeng. Dalam hal ini ia harus mampu menggunakan lafal dan intonasi yang benar dan indah. Benar berarti sesuai dengan kaidah, sedangkan indah berarti memperdengarkan nilai yang menyentuh aspek keindahan di telinga dan juga pada imajinasi.  Keterampilan berbicara diperlukannya ketika ia harus melakukan dialog sebab di dalam dongeng ada dialog antara pemeran yang satu dan pemeran yang lain. Hal yang demikian terdapat di dalam dongeng, baik yang disajikan dengan cara "melisankan langsung" maupun yang disajikan dengan membacakan naskah. Jika mendongeng dengan membacakan naskah dongeng, ia dituntut mampu membaca dengan gaya berbicara. Dengan kata lain, ketika membacakan naskah tersebut ia sesungguhnya berbicara atau meskipun membaca, sesungguhnya ia berbicara. Berkenaan dengan itu, ia harus mempunyai pengetahuan yang memadai tentang kaidah bahasa yang mencakupi kaidah fonologis (lafal dan ejaan), morfologis (bentuk kata: dasar dan turunan), sintaktis (frasa, klausa dan kalimat), dan kewacanaan (lisan). (Baca: "Kaidah Fonologis Vokal dan Diftong Bahasa Indonesia", dan "Penggunaan Bahasa dalam Program Audio/Radio")
Nah, hal-hal itulah yang seharusnya dimiliki oleh seorang pendongeng. Bagaimana dengan Anda, wahai guru Bahasa Indonesia?

0 Response to "Dongeng, Sarana Mengajar Bernuans Karakter Bangsa: Bagaimana Melakukannya"

Posting Komentar