Memproses menjadi Memroses, Bagaimana Kaidahnya?

Menggunakan bahasa yang baik dan benar tentu saja menjadi hal yang harus diperhatikan oleh semua pengguna bahasa, apalagi sebagai seorang guru. Sangat ironis seorang guru, terlebih guru Bahasa Indonesia bingung ketika ditanya kenapa sekarang penulisan memproses menjadi memroses, memperhatikan menjadi memerhatikan dan pertanyaan-pertanyaan sejenis. Bagaimana penjelasan sebenarnya? Postingan berikut barangkali akan membantu pengguna Bahasa Indonesia memahami hal tersebut.

Salah satu proses pembentukan kata dalam Bahasa Indonesia adalah dengan cara afiksasi, sebuah metode pembentukan kata dengan penambahan afiks. Dikenal berbagai macam afiks dalam Bahasa Indonesia, antara lain, prefiks (awalan), sufiks (akhiran), infiks (sisipan) dan konfiks (gabungan antara afiks dan sufiks).
Salah satu prefiks produktif dalam Bahasa Indonesia adalah awalan me-N (me- nasal). 
Penggunaan setiap afiks tentu mempunyai kaidah, termasuk penggunaan awalan me-N. Salah satu kaidahnya adalah bahwa setiap kata yang berhuruf awal p ditambahi dengan awalan me-N, maka bunyi p akan luluh menjadi m. 
Contoh:
  • me-N + proses                     ====> memproses
  • me-N + perhatikan              ====> memroses
  • me-N +pastikan                  ====> memastikan
Lalu bagaimana dengan memperhatikan? Bukankah tulisan yang sudah sering digunakan adalah bentuk tersebut (memperhatikan) bukan memerhatikan.
Jika kita taat dan patuh pada kaidah, sebenarnya bentuk yang benar adalah memroses dan memerhatikan bukan memperhatikan dan memproses. Kedua bentuk terakhir adalah bentuk yang salah, tidak sesuai dengan kaidah. Meskipun kedua bentuk tersebut sudah biasa digunakan, bukan berarti bentuk tersebut yang harus dipertahankan?

0 Response to "Memproses menjadi Memroses, Bagaimana Kaidahnya?"

Posting Komentar