Inspiransi Cinta: Sebuah Resensi

Judul: Ekspresi Cinta untuk  SBY
Pengarang: Jamaah Fesbukiyah (PNBB)
Penerbit: Citra Media Yogyakarta
Halaman: 207
Cetakan: Pertama, Maret 2012

Cinta tidak harus selalu membenarkan.Cinta adalah meluruskan. Cinta adalah menginginkan yang dicintai mendapatkan kebahagian, kebahagiaan dunia maupun akhirat.

Cinta juga tidak harus mengeluh. Apalagi menuntut. Cinta adalah memberi meski terkadang meminta bahkan suatu saat harus memaksa. Cinta adalah pelajaran tentang bagaimana mengubah kehidupan kita menjadi taman yang lebih indah di pandang dan nyaman di huni.

Buku Ekspresi Cinta untuk SBY (ECuS) merupakan ekspresi cinta dari sekumpulan manusia yang bernama rakyat kepada pemimpinnya. Kesadaran akan sulitnya memenuhi keinginan berjuta kepala yang mempunyai pikiran/ atau keinginan  yang berbeda-beda dan sekaligus kenyataan bahwa presiden adalah pemimpin dari negeri ini yang pasti suatu saat akan dimintai pertanggung-jawaban menyebabkan ekspresi yang dilontarkan sangat bijaksana. Kalau toh ada cercaan, makian atau kemarahan itu semua dalam koridor cinta. Cinta yang tidak selamanya harus menerima pasrah dan menurut begitu saja.

Buku ini memberi  banyak inspirasi karena di dalamnya diungkap dengan bahasa yang lancar dan dialog, bagaimana seseorang menjadi pemimpin. Dan Ekspresi Cinta untuk SBY ini menjadi penting manakala kesadaran sebagai seorang pemimpin ada dalam setiap dari kita. Dimana seorang pemimpin adalah orang yang melihat lebih banyak daripada yang dilihat orang lain, melihat lebih jauh daripada yang dilihat orang lain dan melihat sebelum orang lain melihat (hal. 102). Karena gaya komunikasi massa yang sebaiknya diterapkan adalah gaya komunikasi yang mampu memberikan pencitraan yang tegas, berada di posisi mana dirinya sebenarnya.  Pencintraan diri ini penting mengingat setiap rakyat pasti menginginkan pemimpinnya berada di posisi mereka. Membela kepentingannya dan menyadari kebutuhannya. Bukan sebaliknya. (hal. 94)

Selain itu buku ini juga mengajarkan bagaimana seharusnya seorang anak berdiskusi dengan bapaknya, Seorang  rakyat dengan presidennya. Tidak harus dengan pembicaraan yang penuh dengan cacian, sumpah serapah dan sebagainya. Kearifan dalam bersikap, kesantunan dalam berbicara justru akan membuat diskusi dan pembicaraan lebih nyaman dan menghasilkan.

Meski  judulnya terkesan hanya untuk SBY, tetapi sebenarnya siapapun layak membaca buku ini. Bahkan, Anda bebas menentukan posisi.  Anda tidak harus memposisikan diri sebagai SBY.  Anda bisa memposisikan sebagai seorang rakyat jelata atau manusia pada umumnya. Tetapi jika Anda ingin merasakan bagaimana hati seorang Presiden, Anda bisa memposisikan sebagai SBY, yang terkadang di puji, dikasihani, dipaksa untuk segera melakukan sidak, dan tidak jarang pula dihargai.

Dimanapun Anda memposisikan, ada banyak hikmah yang bisa diambil. Ada inspirasi cerdas cemerlang yang bisa didulang. Apalagi ketika ada kesadaran bahwa pada hakikatnya semua manusia adalah pemimpin. Pemimpin keluarga, minimal pemimpin dirinya sendiri.

Sebagai sebuah antologi surat, wajar jika didapatkan gaya menulis dan pengekspresian yang berbeda-beda. Betapapun curahan ini menunjukkan empati pada Sang Presiden sekaligus rasa bertanggung jawab atasa eksistensi bangsa ini.

Dengan demikian buku ini layak menjadi buku referensi  bagi siapapun dan terkhusus bagi pak SBY buku ini akan menjadi kenangan yang bisa Bapak lihat kembali saat Bapak menjadi orang biasa.  Pasti Bapak akan tersenyum, geram dan terkadang menitikkan air mata saat membacanya dalam suasana tenang tanpa beban pekerjaan berat yang menggelayut di pundak Bapak.  Apalagi kalau kemudian pak SBY benar-benar punya akun Facebook kemudian meng-add group PNBB seperti pesan pak Heri Cahyo dalam curhatnya pada Bapak.

0 Response to "Inspiransi Cinta: Sebuah Resensi"

Posting Komentar