Pengajaran Cerpen pada Kurikulum 2013



Cerpen merupakan salah satu jenis karya sastra yang mengisahkan sepenggal kehidupan seseorang dengan seluk beluknya. Ciri cerpen yang lain adalah adanya kesan tunggal yang dijelaskan dalam sebuah cerita. Kesan tunggal ini memungkinkan cerpen hanya membahas persoalan-persoalan yang simple dan sederhana namun terkadang menyentak.

Kisah menyentak dari sebuah cerpen dapat dilihat dari akhir cerita yang benar-benar membuat pembaca terkejut. Keterkejutan itu terbangun karena tidak ada tanda-tanda yang mengawali sebelumnya. Sebagai contoh keterkejutan itu dapat dilihat dari ringkasan cerpen berikut ini.

Seorang laki-laki paruh baya tiba-tiba sangat marah saat mendapati pohon pepayanya ditebang seseorang. Ia sangat marah. Baginya pohon pepaya itu seperti anaknya yang telah ia pelihara bertahun-tahun dan telah memberikan hasil untuknya. Karenanya, kematiaannya yang tidak wajar menyebabkan ia marah. Akhirnya ia ajukan persoalannya pada ketua RT. Bagi ketua RT pohon pepaya bukanlah persoalan yang besar maka ia pun tak mau menanggapi keluhan warganya tersebut.

Tentu saja sikap ketua RT ini sangat menyakitkan si lelaki tadi. Ia pun mengadukan persoalannya kepada Pak Lurah, Pak Camat hingga ke kantor polisi. Harapannya mereka akan membantu siapa yang telah berani menebang pohon pepayanya. Tetapi kenyataan yang dia hadapi justru sebaliknya. Di kantor polisi ia dibentak-bentak karena melaporan persoalan yang sangat remeh. Sikap mereka itu telah membawa si laki-laki tadi  kecewa dan menahan emosi, hingga akhirnya didapati ia meninggal dunia karena sedih tidak dapat menemukan penebang pohon pepayanya.

Di saat itulah si istri laki-laki tadi menjerit dan memaki pohon pepaya yang sebenarnya ialah yang menebangnya tanpa sepengetahuan si suami.

Akhir cerita sungguh menyentak karena tidak ada kalimat-kalimat sebelumnya yang mengarahkan bahwa penebang pohon pepaya tersebut adalah istrinya laki-laki tadi.

Struktur Cerpen

Pada pengajaran KTSP, ketika membahas cerpen tidak pernah dari unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Tetapi pada pengajaran yang menggunakan kurikulum 2013 pengajaran cerpen tidak lagi membahas kedua unsur cerpen tersebut. Yang lebih dipentingkan dalam pengajaran sastra pada kurikulum 2013 yang berbasis teks ini adalah struktur cerpen itu sendiri.

Struktur cerpen terbagi menjadi 3, yaitu orientasi, komplikasi dan resolusi. Kalau dicermati pembahasan cerpen dengan mengarahkan pada struktur cerpen tersebut mempersempit materi. Karena menurut hemat saya struktur cerpen tersebut menunjuk pada plot atau alur saja.

Pada bagian orientasi, penulis menjelaskan dan memperkenalkan pembaca pada tokoh, latar cerita. Dalam orientasi ini juga tergambar permasalahan yang dihadapi si tokoh. Sementara itu permasalahan yang dihadapi tokoh pada bagian orientasi didetilkan pada bagian komplikasi. Pada bagian ini masalah yang satu menimbulkan masalah yang lain hingga terciptalah jaring-jaring masalah yang membutuhkan penyelesaian.

Penyelesain dari semua masalah tersebut diberikan oleh pengarang pada bagian penutupnya, yakni pada bagia resolusi.

Pengajaran sastra yang berbasis teks ini lebih banyak mengajak siswa untuk menelaah teks sastra, dalam hal ini cerpen. Guru hanya mengarahkan dan berusaha menjawab jika ada kesulitan yang ditemui oleh siswa. Dengan demikian guru dan siswa akan saling berlomba dalam meningkatkan kemampuan mereka dalam memahami sebuah cerita.

0 Response to "Pengajaran Cerpen pada Kurikulum 2013"

Posting Komentar